Selasa, 16 Desember 2008

Sebuah Renungan





Assalaamu'alaykum Warrahmatullahi
Wabarakatuh,
Akhi/Ukhti..........


Suatu hari, Imam Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Ghozali mengajukan enam pertanyaan pada murid-muridnya.

Pertanyaan Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"!Murid-muridnya ada yang menjawab : orang tua, guru teman dan kerabatnya.Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah 'mati'. Sebab itu sudah janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Oleh karena itu sudah siapkah kita mati? Bekal apakah yang akan kita bawa mati?!

Pertanyaan Kedua, "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab Negeri
China , bulan, matahari dan bintang-bintang. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling jauh dengan kita adalah 'masa lalu'. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari- hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Allah.

Pertanyaan Ketiga, "Apa yang paling besar di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab : Gunung, bumi dan matahari.. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" . Justru nafsu yang menguasai diri kita, menyebabkan manusia gagal menggunakan akal, mata, telinga dan hati yang dikaruniakan Allah untuk hidup dengan benar.

Pertanyaan Keempat, "Apa yang paling berat di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab : baja, besi dan gajah. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.Tapi yang paling berat adalah "memegang amanah". Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung dan malaikat, semua itu tidak mampu ketika Allah meminta mereka untuk menjadi kholifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah, namun kemudian manusia lupa akan janjinya pada Allah.

Pertanyaan Kelima, "Apa yang paling ringan di dunia ini?" Murid-muridnya ada yang menjawab : kapas, angin, debu dan daun-daunan.Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar.Tapi yang paling ringan didunia ini adalah "meninggalkan sholat" .Gara-gara pekerjaan dan urusan dunia kita dengan mudah meninggalkan sholat.

Pertanyaan Keenam, "Apa yang paling tajam di dunia ini?" Murid-muridnya dengan serentak menjawab Pedang.!!.Imam Ghozali menjawab benar, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena manusia dengan begitu mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Mari saling mengingatkan & memperbaiki. Moga hidup jadi lebih berarti. Tuk raih ridlo Illahi Robbi. Amiin

Senin, 08 Desember 2008

Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 H





Segenap Pengurus ROHIS BEM FKM Unhas Mengucapkan

"Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 H"





Kamis, 04 Desember 2008

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu di antara beberapa bulan yang memiliki keutamaan. Dalam bulan Dzulhijjah, Allah menjanjikan banyak kebaikan yang dapat kita raih. Di antaranya adalah dilipatgandakannya pahala dari amal-amal shalih yang kita lakukan dan diampuninya dosa-dosa yang telah kita perbuat di masa lalu. Dalam bulan Dzulhijjah terdapat momen-momen bagi kita untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih untuk meraih keutamaan-keutamaan dalam bulan tersebut.

Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sepuluh haripertama dari bulan Dzul Hijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dan Ibnu Katsir Rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tiada hari yang lebih di cintai Allah Ta’ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab, “tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi”. (HR Bukhari)

Dan Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dri Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Sholallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah Ta’ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdulillah)”.

Akan tetapi, apakah sepuluh hari Dzul Hijjah ini lebih mulia dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjawab persoalan ini dengan jawaban yang tuntas, dimana beliau menyatakan, “Sepuluh hari (pertama) Dzul Hijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam (terakhir) bulan Dzul Hijjah.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah). Muridnya Ibnul Qoyyim Rahimahullah juga menyatakan, ”Ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama karena adanya Lailatul Qadr, dan Lailatul Qadr ini merupakan bagian dari waktu-waktu malamnya, sedangkan sepuluh hari (pertama) Dzul Hijjah menjadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari Arafah dan hari Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah)”.

Hari Arafah ( hari ke sembilan Dzulhijjah ) merupakan salah satu hari dalam sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah yang memiliki keutamaan. Ada beberapa dalil yang menjelaskan tentang keutamaan hari Arafah. Dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman, “Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih).

Hadits ini menunjukkan keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh oleh jamaah Haji yang melaksanakan ibadah wukuf di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari itu disunnahkan untuk berpuasa. Allah menjanjikan bagi orang-orang yang berpuasa pada hari itu, pengampunan dosa-dosa baik setahun yang lalu maupun setahun yang akan datang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)

Pada sepuluh hari pertama di bulan Dzul Hijjah ini pula kaum muslimin merayakan Idul Adha atau yang disebut juga yaumul Nahr merupakan hari yang memiliki beberapa keutamaan. Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari Idul Adha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya...”(HR. Abu Dawud).

Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3).

Dan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebut hari agung ini dengan sebutan yang sama. Karena sebagian besar amalan-amalan manasik Haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan Thawaf mengelilingi Ka’bah (Zaadul Ma’aad). Selanjutnya,tiga hari berikutnya setelah yaumun Nahr adalah hari-hari tasyrik merupakan hari-hari yang diutamakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir. Dan hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (Al-Baqarah: 203)

Dalam menghadapi bulan Dzulhijjah yang memiliki banyak keutamaan ini, kita disyariatkan untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Lalu amalan apa saja yang disyariatkan kepada kita untuk diperbanyak di bulan dzulhijjah ini ?

Dalam bulan Dzulhijjah ini kita disunnahkan untuk memperbanyak dzikir baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil terutama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan supaya mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)

Amalan lain yang disunnahkan bagi kita terutama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kecuali pada hari kesepuluh adalah melaksanakan ibadah Puasa. Pada hari ke sembilan Dzulhijjah yaitu pada hari Arafah kita sangat dianjurkan untuk berpuasa mengingat begitu besar keutamaan yang akan kita peroleh jika kita berpuasa pada hari tersebut yaitu diampunkannya dosa-dosa kita setahun yang lalu dan yang akan datang. Pada bulan Dzulhijjah pula kita disyariatkan untuk melaksanakan ibadah Qurban yaitu tasyrik).

Itulah keutamaan-keutaman yang terdapat pada bulan Dzulhijjah serta beberapa amalan yang disyariatkan di dalamnya. Mari kita sambut bulan Dzulhijjah yang dimuliakan ini dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh. Manfaatkanlah setiap detik yang berharga dalam bulan Dzulhijjah ini untuk meraih kebaikan-kebaikan di dalamnya. Semoga kita dapat meraih keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam bulan Dzulhijjah ini.

Diolah dari berbagai sumber


Minggu, 23 November 2008

Tetaplah Di Sini

Tetaplah semangat mujahid dakwah, sesungguhnya kekuatanmu ada pada barisan yang tersusun kokoh, amunisimu ada pada ruhiah yang bercahaya, strategimu ada pada keyakinan dan keikhlasan yang luar biasa padaNya. Ya Allah saksikanlah bahwa diri ini, saudara-saudaraku dan kami semua yang ada di jalan dakwah ini hanya mengharap keridhaan dariMu agar dapat melangkah ke surga, karena kami taat dan cinta padaMu

Tetaplah di sini saudaraku, di jalan tarbiyah keimanan, di jalan Islam. Tetaplah bersama-sama meniti jalan ini sampai usai. Kita semua mungkin letih, karena perjalanan ini amat panjang dan sangat berliku. Yakinlah kenikmatan yang kita rasakan di jalan ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang lalai. Keindahan yang kita alami di sini, sangat lebih indah daripada keindahan yang sering dibanggakan oleh mereka yang jauh dari jalan ini, Jangan berharap atau tertipu dengan fatamorgana kenikmatan, keindahan, kebahagiaan semu yang sering kita lihat dari orang-orang yang jauh dari tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetaplah di sini

Ditulis oleh Ikhwan 17

Senin, 17 November 2008

Fenomena “Cinta di Kalangan Aktivis Dakwah”

Oleh : Arif Atul M Dullah / sumber ; buletin Al Firdaus dengan beberapa penyesuaian


Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya.

Merasakan Kerjanya saat ia memindahkan pasir di tengah gurun.

Atau merangsang amuk gelombang ditengah laut lepas.

Atau meluluhlantahkan bangunan-bangunan angkuh

Di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta.

Ia ditakdirkan kata tanpa benda.

Tak terlihat hanya terasa.

Tapi dahsyat”

( Anis Matta)

Ketika Aktivis Jatuh Cinta

Begitulah kira-kira kita menggambarkan defenisi sebuah kata ”Cinta”. Kata yang memiliki makna dalam hidup manusia. Cinta adalah anugerah Allah yang besar. Fenomena jatuh cinta adalah hal yang sangat umum di masyarakat kita, khususnya kaum muda. Mungkin kita adalah salah satu pelakunya. Hal yang mungkin muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang aktivis dakwah adalah apa iya, para aktivis dakwah itu juga mengalami yang namanya jatuh cinta?? Atau jangan-jangan mereka lebih parah dari yang lain, orang-orang yang ada diluar aktivis dakwah??

Jatuh cinta merupakan sunatullah. Siapun ia, bisa mengalami kondisi ini. Tak terkecuali orang-orang yang kita kenal dengan nama ”Aktivis Dakwah”. Fenomena ini mungkin juga umum dikalangan aktivis dakwah. Jiwa muda yang penuh dengan gejolak dan semangat, tentu saja sangat rentan degan berbolak baliknya perasaan cinta. Memang tidak ada yang salah.

Akan tetapi, sudah seharusnya, cintanya para aktvisi bukanlah cinta buta yang tidak berdasar. Bukan pula cinta yang membabi buta seperti kehilangan akal sehat. Tetapi, cinta para aktivis seperti ruh orang-orang yang mabuk cinta dijalan Allah. Ketika aktivis jatuh cinta, jiwa dan raganya harus menjadi pengikut setia syariat. Tidak ada tempat bagi unsur-unsur yang merusak. Semuanya harus melebur ke dalam ketaatan dan keingin beramal soleh.

Seorang aktivis tatkala jatuh cinta bukanlah peniupu yang diliputi ketamakan dan kebusukan untuk mengambil kenikmatan tanpa mengikuti aturan syariat. Sebab setiap urusan para pejuang dakwa harus berbuah kebaikan. Termasuk soal cinta. Saat aktivis jatuh cinta, pada hakekatnya ia sedang jatuh cinta pada keindahan ilahiyah. Ia harus beranjak dari egoisme pembangunan unsur diri kepada manfaat bagi umat.

Jangan ada noda di antara aktivis dakwah

Jatuh cinta sebenarnya perasaan. Tempatnya sangat tersembunyi di dalam sanubari. Tatkala ia ada, seluruh anggota tubuh akan memberikan respon terhadapnya. Hingga ilmu terkadang bisa dinomor duakan. Pengetahuan akan batasan bergaul dengan lawan jenis atau bagaimana seharusnya seorang aktivis senantiasa membersihkan jiwanya terkadang tidak mampu melawa rasa cinta itu.

Jatuh cinta bagi para aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah dan jalam meraih ridho Allah SWT serta kesiapan untuk terjun dalam medan dakwah yang lebih besar. Bukan justru membuat para aktivis berguguran di jalan dakwah. Atau membuat mereka futur.

Betapa Allah sangat memuliakan para penyeru dakwah. Olehnya tidak selayaknya mereka mengotori dakwah ini dengan setitik nila. Menghianati perjuangan ini dengan hawa nafsu sesaat. Dan tentu saja menggoreskan warna hitam dalam lembaran putih dien ini. Hingga nanti terbentuk mozaik hati yang indah, yang mampu memantulkan cahaya matahari dengan sempurna.

Berdakwah kepada lawan jenis

Ini juga merupakan fenomena yang kadang kita temukan, bahkan mungkin keluar dari lisan sang aktivis dakwah.

Universalitas dakwah islam lebih jauh lagi merupakan salah satu segi yang membedakan ajaran Rasulullah SAW, dengan ajaran nabi dan rasul sebelumnya. Termasuk dalam konteks berdakwah, tidak mengenal perbedaan antara jenis kelamin.

Allah berfirman :

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma`ruf dan mencegah yang mungkar...” (Q.S At Taubah – 71)

Mengomentari ayat ini Ibn An Nahhas dalam kitabnya Tanhibul Ghafilin, menegaskan bahwa penyebutan orang-orang beriman perempuan secara eksplisit dalam ayat ini mengindikasikan wajibnya hukum berdakwah bagi wanita, sebagaiman pria.

Namun dalam tataran teknis dan operasional, berdakwah pada lain jenis perlu untuk memperhatikan rambu-rambu syariatl. Sebab sudah merupakan fitrah bagi keduanya untuk saling tertarik pada lawan jenisnya. Ditambah lagi faktor hawa nafsu dan godaan syaitan yang sangat mungkin mempengaruhi nilai dakwah. Niat awal yang suci luhur bisa berubah keruh dan kotor. Dakwah yang semestinya membawa rahmat dapat berubah menjadi ajang perilaku kemunafikan.

Mengapa Rasa itu Hadir ???

Jatuh cinta adalah jalan yang dapat menggoyahkan pendirian. Ia ibarat lautan yang penuh dengan riak gelombang. Siapa saja yang mengarungi samudera cinta pasti akan dipermainkan oleh riak gelombang.

Ada beberapa alasan, yang menjadi penyebab munculnya perasaan ini dikalangan aktivis dakwah :

  • Mengumbar pandangan mata. Ibnul Qayyim Al Jauziah mengatakan bahwa mata adalah pintu terdekat yang dapat menjerumuskan seseorang pada kemaksiatan. Maka pandangan mata diharamkan kecuali dalam koridor syariat.
  • Lemahnya keimanan dan minimnya pengetahuan yang menjadikan kita menganggap biasa hal yang sebenarnya maksiat.

Ada banyak sarana yang menyebabkan kisah cinta itu tumbuh. Mulai dari seringnya mengadakan musyawarah hingga timbul kekaguman, simpati dan apresiasi terhadap ikhwan maupun akhwat. Atau sekedar saling mengingatkan program kerja melalui SMS. Bisa juga melalui dunia cyber atau chatting. Di sela-sela itulah seruan syaitan kemudian muncul dengan rayuan mautnya, sehinggat terseliplah pesan-pesan pribadi diantara keduanya.

Berdakwah merupakan sebaik-baiknya pekerjaan. Dakwah adalah tugas nabi dan rasul. Akan tetapi jika pekerjaan mulia itu telah ternodai oelh para pengembannya, tentu menjadi sesuatu yang ironi. Bukan saja akan mencoreng pelakunya, tetapi juga agama yang sempurna ini. Ada kasus – kalau kita tidak menyebutnya banyak- kisah kasih sesama aktivis itu dimuali dari ”strategi mengembangkan dakwah” tidak ada tendensi saat awal melakukan ekspansi dakwah. Tapi seiring dengan interaksi yang semaki intens, keberadaan penyakit ini menjadi hal yang sulit dihindari

Semai Asa, Wujudkan cita dengan Cinta dan Dakwah ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO